Wortel Untuk Raja dan Sholat Untuk Diri Sendiri

WortelPak Broto adalah petani miskin dan sederhana yang tinggal di desa Air Sungai di sebuah kerajaan kecil yang bernama Bukit Abad. Ia merasa sangat diberkati Allah karena mempunyai isteri dan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan yang sehat.  Anak sulungnya masih berumur 10 tahun. Karena kemiskinan, Pak Broto tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Namun keluarganya rukun dan semua bekerjasama untuk mencari nafkah.

 

Lahan yang Kecil

Pak Broto terpaksa bekerja di kebun orang kaya karena lahan yang dia miliki sangat kecil, 8 meter kali 10 meter. Demikianlah setiap pagi ia bangun, mandi, sarapan seadanya, lalu mengambil cangkulnya dan berangkat bekerja.  Gaji yang dia terima hanya cukup untuk membeli beras bagi keluarganya dalam satu hari. Namun Pak Broto selalu mempunyai sikap positif dan tidak bersunggut-sunggut akan nasibnya. Ia senang karena cukup sehat sehingga dapat bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya.

Pada musim hujan Pak Broto biasanya pergi ke kota kecil, kurang-lebih 12 kilometer dari rumahnya. Di sana ia bekerja sebagai kuli, memikul karung beras dan barang-barang lain pada punggungnya untuk pemilik toko-toko guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

Lahan kecil didekat rumahnya digunakan sebagai kebun keluarga. Karena rumah mereka terletak di pegunungan, mereka dapat menanam tomat, kentang, wortel dan sayuran lainya.  Pak Broto selalu menyiangi dan menanami kebunnya. Karena ia bekerja setiap hari maka yang memelihara kebunnya adalah isteri dan anak-anaknya. Hasil kebun tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka dan juga ada yang dijual ke pasar jika hasil panen cukup bagus.

Wortel yang Besar dan Bagus

Pada suatu hari, pak Broto terkesima melihat sebuah wortel yang tumbuh besar dan luar biasa di kebunnya. Ia belum pernah melihat wortel yang begitu besar dan sangat bagus. Menurutnya itu adalah wortel terbesar yang pernah tumbuh di kebun di daerahnya. Ia memanggil para tetangganya dan mereka juga heran melihat wortel itu.

Mimpi dan Hadiah Untuk Raja

Disaat orang-orang masih membicarakan wortel yang luar biasa itu, pada satu malam pak Broto bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat banyak orang memberi hadiah bagus kepada Raja Bukit Abad dan dia sedih karena tidak mempunyai apa-apa yang dapat diberikan kepada Sang Raja.

Pagi harinya setelah dia bangun, dia memikirkan kembali mimpinya, dia merasa bahwa “Raja Bukit Abad sungguh baik” tapi sayang, dia tidak dapat memberi hadiah apapun pada Sang Raja sebagai tanda terima kasih dan penghargaan dia, walaupun itu hanya dalam mimpinya saja. Tetapi kemudian dia teringat dengan wortel yang besar dan luar biasa itu. Lalu dia mengutarakan niatnya kepada istrinya, kemudian mereka sepakat untuk menghadiahkan wortel kesayangan mereka itu kepada Sang Raja.

Wortel Untuk Raja

Tiga hari kemudian Pak Broto mengambil wortel itu dari kebunnya, membersihkannya dengan baik dan memasukkannya ke dalam karung.  Lalu dia mandi dan menggunakan pakaiannya yang terbaik, pakaian yang selalu dia gunakan jika mengikuti pesta pernikahan. Ia pun akhirnya berangkat ke istana Raja yang terletak 15 kilometer dari rumahnya.

Jam 11 siang dia tiba di istana. Kelihatan ada puluhan orang di depan istana.  Di depannya Sang Raja berbicara dengan dua anak muda. Pak Broto maju terus dan memberanikan diri untuk mendekati Raja. Seorang Panglima, Bapak Joko, yang sedang melayani Raja berusaha menghalangi Pak Broto. Tetapi Sang Raja melihat Pak Broto dan mengijinkan dia berbicara.

Dengan gemetar Pak Broto berkata:  “Baginda Raja yang hamba hormati, hamba adalah petani sederhana yang tinggal di desa Air Sungai.  Hamba sangat menghargai Baginda karena kebaikan Baginda terhadap rakyat di Kerajaan Bukit Abad.  Beberapa hari yang lalu hamba bermimpi tentang memberi tanda terima kasih kepada Baginda.  Sayangnya, hamba orang miskin dan tidak mempunyai apa-apa yang berharga. Tetapi kebun hamba yang sangat kecil menghasilkan wortel yang luar biasa.  Semua tetangga mengakui bahwa mereka belum pernah melihat wortel yang begitu bagus. Akhirnya hamba berpikir, karena wortel ini merupakan harta hamba yang paling berharga, hamba akan mempersembahkannya kepada Baginda Raja.  Demikianlah hari ini hamba membawa wortel itu dalam kantong ini dan hamba ingin menghadiahkannya kepada Baginda.

Orang-orang yang mendengar pidato singkat Pak Broto tertawa geli.  Tetapi Baginda Raja mendengar dengan serius dan terharu.  Akhirnya ia berterima kasih atas kebaikan Pak Broto dan menerima wortel dari tangannya.

Kemudian Raja bertanya kepada Pak Broto berapa ukuran kebunnya.  “delapan meter kali sepuluh meter,” jawab Pak Broto.  “Begini Pak Broto,” kata Raja, “Saya ingin memberikan kepada Pak Broto satu hektar tanah.”  Pak Broto terkejut dan gemetar.  Dia menangis karena terharu lalu berlutut dan berterima kasih pada Sang Raja.  Kemudian Raja menyuruh pembantunya untuk mengurus surat kepemilikan tanah untuk Pak Broto secepatnya.  Kemudian dengan rasa hormat dan sopan dia minta diri lalu pulang ke rumahnya.

Rencana dan Hadiah Pak Joko

Pak Joko, Panglima yang melayani Raja Bukit Abad, menyaksikan kejadian ini dengan heran. Bagaimana mungkin Raja mau memberi satu hektar tanah kepada petani Kuda Putihhanya karena petani tersebut menghadiahkan wortel kepada Raja?

Pak Joko adalah orang yang sangat kaya dan mempunyai 30 kuda. Bertahun-tahun dia membeli dan menjual kuda sehingga kuda-kuda yang dimilikinya mempunyai kwalitas yang sangat bagus. Lalu dia berpikir,  “Jika Pak Broto saja diberi satu hektar tanah karena menghadiahkan wortel kepada Sang Raja, apa yang akan terjadi jika saya menghadiahkan kuda saya yang terbaik kepada Raja?“

Keesokan harinya Pak Joko membawa kudanya yang terbaik ke istana dan memberikannya kepada Raja. Kemudian dia berpidato persis seperti yang disampaikan oleh Pak Broto. Raja mendengarkan dan berterima kasih kepada Pak Joko.  Lalu Raja meminta pembantunya mengambil kuda tersebut dan memasukkannya ke dalam kandang dengan kuda-kuda yang lain. Setelah itu Raja meninggalkan Pak Joko.

Pak Joko Kecewa dengan Sikap Raja

Pak Joko terkejut dengan tindakan Raja.  Dia heran, “Mengapa Baginda Raja tidak memberi apapun kepada saya sedangkan saya telah memberi kuda terbaik”.  Sementara itu Sang Raja sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Pak Joko.  Ia berpaling dan berkata, “Pak Joko, kemarin Pak Broto memberi wortel terbaiknya kepada saya.  Sedangkan hari ini Pak Joko memberi kuda bukan untuk saya tapi untuk diri pak Joko sendiri.”

Pembaca yang terhormat, apa arti perkataan Sang Raja itu?  Pak Broto memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada Raja tanpa mengharapkan apa-apa.  Ia memberi karena dorongan kasih.  Berbeda dengan Pak Joko.  Pak Joko memberi dengan motivasi supaya menerima imbalan dari Raja, sesuatu yang lebih berharga dari kuda yang dia berikan.  Karena Pak Joko memberi dengan harapan mendapat balasan dari Raja, itu artinya Pak Joko memberi kepada dirinya sendiri.

Apa Aplikasi Untuk Kita?

Apakah aplikasi untuk kita dari cerita diatas? Setiap kali kita sembahyang, sholat, memberi sedekah, naik haji dan lain-lain dengan tujuan menambah amal supaya kita dapat masuk sorga, itu artinya kita berbuat amal untuk diri sendiri dan bukan untuk Allah. Kita sholat untuk diri sendiri, bukan untuk Allah.  Kita tidak memberi sedekah untuk Allah. Tapi semua itu kita lakukan untuk kepentingan diri sendiri.  Kita seperti Pak Joko, memberi dengan harapan menerima sesuatu dari Allah.

Yang Sudah Selamat Sholat Karena Kasih

Seseorang yang menerima keselamatan yang diberikan oleh Isa Al-Masih, tidak lagi sholat untuk diri sendiri ataupun beramal dengan tujuan menerima apapun.  Semua amal, sholat yang dijalankan merupakan tanda kasih, tanda terima kasih kepada Allah.  Orang yang sudah diselamatkan, yang sudah menjadi anak Allah beramal karena kasih saja. Tidak ada motivasi lain.

Orang ini adalah seperti Pak Broto, memberi yang terbaik karena kasih.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.