Muslim Koruptor Lebih Baik Daripada Kafir Jujur

Sebelum melangkah lebih jauh membandingkan dua frase diatas ,  ada baiknya kita pahami terlebih dahulu satu persatu susunan kalimatnya.


Muslim Koruptor

Kita semua tentu mengetahui muslim artinya orang Islam. Islam, sebagaimana definisi yang  dijelaskan para ulama berarti,

الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله

“Berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan ketundukan menjalankan ketaatan kepadaNya serta berlepas diri dari syirik dan pelakunya.”

Seorang muslim berarti orang yang berserah diri kepada Allah dengan tauhid yaitu memurnikan ibadah kepada Allah serta menjalankan ketaatan baik dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tak hanya sampai disitu,  seorang muslim dituntut untuk berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.

Sungguh seorang hamba yang bertauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia disisi Allah.

Seorang yang mentauhidkan Allah dengan tauhid yang sempurna, akan Allah beri rasa aman di dunia dan akherat.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

Dengan sebab tauhid, seorang hamba mendapat ampunan Allah atas dosa-dosa yang ia perbuat.

Seorang yang menjumpai  Allah dengan membawa dosa sepenuh bumi, Allah akan ampuni dosa-dosa tersebut karena sebab tauhid yang ada pada dirinya. Dalam hadis ilahi, Allah Ta’ala berfirman,

يا ابن آدم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئًا لأتيتك بقرابها مغفرة

“Wahai anak Adam, andai engkau mendatangiKu dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau menjumpaiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun sunggun Aku akan mendatangamu dengan ampunan sebanyak itu pula.” (HR. At Tirmidzi No. 3450. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi dan Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in.)

Dengan sebab tauhid, menghalangi seorang hamba untuk tinggal di neraka selamanya.

Seorang hamba yang Allah masukkan ke dalam nereka karena dosa yang ia lakukan di dunia, akan Allah keluarkan ia dari neraka dengan sebab tauhid walaupun keimanannya hanya sebesar biji sawi.

Dari Abu Sa’id Al Kudriy radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

يدخل أهل الجنة الجنة وأهل النار النار ثم يقول الله تعالى أخرجوا من النار من كان في قلبه مثقال حبة من خردل من إيمان فيخرجون منها قد اسودوا فيلقون في نهر الحيا أو الحياة شك مالك فينبتون كما تنبت الحبة في جانب السيل ألم تر أنها تخرج صفراء ملتوية

Penduduk surga telah masuk surga. Penduduk neraka telah masuk neraka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,
‘Keluarkanlah dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan walaupun sebesar biji sawi.’
Kemudian mereka keluar dari neraka dalam keadaan tubuh mereka menghitam seluruhnya. Kemudian mereka dilemparkan ke sungai hidup atau  kehidupan -Malik ragu-. Kemudian mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya benih yang berada di pinggiran aliran sungai. Tidakkah kalian perhatikan bagaimana ia keluar berwarna kekuningan.
” (HR.Bukhari No. 22 dan Muslim No. 184)

Dari hadis diatas secara tegas menjelaskan seorang yang beriman walaupun imannya sebesar biji sawi akan Allah masukkan ke surga meskipun harus mampir ke neraka dalam waktu yang Allah kehendaki. Hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang kafir lagi durhaka kepada Allah.


Koruptor

Korupsi menurut KBBI berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Korupsi satu diantara bentuk pengkhianatan. Sehingga koruptor adalah orang yang diberi kepercayaan namun mengkhianati kepercayaan tersebut dengan menyalahgunakannya  untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Secara istilah syar’i ada beberapa kata yang sepadan dengan makna korupsi diantaranya ghulul (غلول), khiyanah (خيانة), ghadrun (غدر).

Korupsi, satu diantara deretan dosa-dosa besar

Adz Dzahabi dalam kitab beliau,  Al Kabaair menempatkan dosa ghulul di posisi ke 22 diantara dosa-dosa besarlainnya. Diantara dalilnya,

Allah tidak menyukai orang yang berkhianat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al Anfal: 58)

Di ayat lain Allah mengancam orang yang berkhianat kelak di hari kiamat akan membawa apa yang dikhianatkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ

“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …” (QS. Ali Imran: 161)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkisah tentang ayat ini,

فقدوا قطيفة يوم بدر فقالوا: لعل رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذها فأنزل الله “وما كان لنبي أن يغل” أي يخون.

“Disaat perang Badr, mereka (orang-orang munafi) kehilangan kain beludru (hasil harta rampasan). Lalu mereka berkata,  ‘Barangkali telah diambil Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.’ Maka Allah turunkan ayat,

وما كان لنبي أن يغل

“Tidak mungkin bagi seorang Nabi melakukan ghulul yaitu khianat.” (Tafsir Ibni Katsir)

Ibnu Katsir berkata tentang ayat diatas,

وهذا تهديد شديد ووعيد أكيد وقد وردت السنة بالنهي عن ذلك أيضا في أحاديث متعددة.

“Ayat ini merupakan ancaman yang keras dan peringatan yang tegas. Terdapat sejumlah hadis yang menyebutkan larangan dari perbuatan ghulul.” (Tafsir Ibn Katsri)

Diantara hadis yang menyebutkan ancaman bagi para pengkhianat. Dari Abu Sa’id Al Kudriy radhiyallahu’anhu,

لكل غادر لواء يوم القيامة يرفع له بقدر غدره . ألا ولا غادر أعظم غدرا من أمير عامة

“Di hari kiamat kelak, setiap pengkhianat memiliki bendera tanda pengenal yang akan dikibarkan setinggi-tingginya sesuai kadar pengkhianatannya. Ketauhilah tidak ada pengkhianat yang lebin besar dari pengkhianatan seorang pemimpin kepada rakyatnya.” (HR. Muslim No. 1378)

Ibnu Katsir berkata tentang hadis diatas,

والحكمة في هذا أنه لما كان الغدر خفيا لا يطلع عليه الناس ، فيوم القيامة يصير علما منشورا على صاحبه بما فعل

“Hikmah hadis diatas, tatkala pengkhianatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi,  tidak ada manusia yang mengetahuinya maka di hari kiamat pengkhianatannya akan dibongkar dan diketahui banyak orang tentang jati diri dan perbuatannya selama ini.”(Tafsir Ibnu Katsir surat Al An’am: 124)

Kesimpulannya:
Orang beriman yang melakukan dosa korupsi dan belum bertaubat kemudian ia mati dengan membawa dosa tersebut maka kelak di hari kiamat Allah akan membongkar pengkhianatannya dan ia akan diberi bendera tanda pengenal bahwa fulan bin fulan sang pengkhianat. Bendera tersebut berkibar setinggi-tingginya sesuai kadar pengkhianatnnya. Di hari perhitungan,  bila Allah menghendaki Allah akan mengampuni dosa tersebut, namun bila tidak Allah akan masukkan ia ke neraka sampai waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu Allah keluarkan ia dari neraka lalu Allah masukkan ke surga. Inilah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah tentang nasib para pelaku dosa besar.


Kafir Jujur

Kiranya terlalu banyak ayat dan hadis yang menegaskan status orang kafir kelak di hari kiamat. Mereka menjadi penghuni neraka selama-lamanya dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang mereka bawa.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)

Dosa kekafiranlah yang menyebabkan seorang hamba menjadi penghuni neraka selama-selamanya. Na’udzubillahi minha.

Di dalam ayat diatas, Allah Ta’ala mensifati mereka dengan seburuk-buruk makhluk!

Lalu adakah orang yang lebih baik dari orang yang telah disifati Allah dengan seburuk-buruk makhluk?

Bahkan orang musyrik lebih sesat dari binatang.

Allah mensifati mereka,

إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al Furqan: 44)

Lalu adakah manusia yang lebih baik dari mereka yang telah disifati “lebih sesat” dari binatang?


Bagaimana dengan sifat jujur, sifat dermawan,  sifat penolong, ramah  yang dilakukan orang kafir?

Saudariku,  ingatlah amal kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia ini sama sekali tidaklah memberi manfaat bagi dirinya di akherat. Allah ta’ala akan membalas amalan  yang dilakukan orng kafir sebatas di dunia. Sementara di akherat kebaikannya terhapus karena kesyirikan dan kekufurannya.

Allah berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 16)

Firman Allah,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar:65)

Kesimpulannya:

Muslim koruptor itu jauh lebih mulia dan lebih baik di sisi Allah daripada kafir jujur. Namun di sisi orang munafik tentu kebalikannya. Bagi mereka, orang kafir jujur lebih baik daripada muslim koruptor. Menurut Anda aneh?
Sejatinya tidak ada yang aneh sama sekali karena Allah Ta’ala telah mengkhabarkan tentang ciri-ciri orang munafik yaitu gemar memilih orang kafir sebagai teman setia daripada memilih orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman,

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An Nisa: 139). Allahua’lam.

Semoga Allah sucikan hati kita dari berbagai sifat kemunafikan baik yang nampak ataupun tersembunyi. Aamiin.


****
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Sumber:
http://kbbi.web.id/korupsi
http://islamport.com/w/akh/Web/2818/23.htm
http://www.startimes.com/?t=30926218
Tafsir Ibn Katsir,  Dar Thayyibah.

Artikel wanitasalihah.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.